Audio Bumper

Wednesday, April 26, 2017

Intensified Case Finding (ICF) Kusta

Slawi - Berdayakan masyarakat untuk menemukan kasus kusta yang tersembunyi. Itu adalah misi utama dari kegiatan ICF yang diadakan di 8 desa di wilayah Kabupaten Tegal. Selain menemukan kasus dan memutus mata rantai penularan kasus kusta agar terjadi penurunan kasus tersebut menuju eliminasi kusta.




 










Kegiatan ini diadakan 4 hari dengan agenda hari pertama sosialisasi kepada kader, hari ke-2adalah pembagian format pencarian bercak kepada kader untuk dibagikan kepada Kepala Keluarga (KK), hari ke-3 adalah pengumpulan kembali format dair KK kepada kader, hari ke4 adalah pemeriksaan anggota keluarga yang memeiliki bercak oleh tenaga kesehatan (programer kusta puskesmas dan dokter puskesmas).

8 Desa yang menjadi project ini adalah:

Puskesmas           Desa
Adiwerna Ujungrusi
Margasari Karangdawa
Pangkah Grobog wetan
Kaladawa Kaladawa
Kupu Sidakaton
Pagiyanetn Harjosari Kidul
Pagerbarang Karanganyar
Kesambi Dukuhtengah







Dari kegiatan ini ditemukan beberapa penderita baru dengan harapan kasus yang selama ini tersembunyi karena tidak adanya ketidaktahuan masyarakat mengenai tanda tanda kusta bisa terdeteksi lebih dini sehingga bisa mencegah kecacatan yang akan diderita jika kasus tersebut terlambat untuk ditangani. 

Dengan melibatkan KK untuk memeriksa anggota keluarganya maka masyarakat juga lebih waspada jika ada bercak mati rasa yang ada di tubuh anggota keluarganya serta langsung merujuknya ke Puskesams untuk diperiksa lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.

Thursday, March 9, 2017

Bahaya fogging DBD

Slawi - Fogging (pengasapan) nyamuk harus dilaksanakan sesuai dengan S.O.P (standar operating prosedur) karena ternyata ada dampak negatif dari fogging tersebut. Banyak masyarakat yang belum mengetahui bahaya dari fogging dan syarat dilaksanakannya fogging.

Bagaimanapun itu adalah racun, insektisida untuk membunuh nyamuk adalah racun, asap karbon hasil pembakaran mesin fogging tersebut adalah racun juga, yang bisa mengendap di rumah, makanan lalu masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan dan kontak langsung.

Selain itu, fogging memicu terjadinya mutasi genetik nyamuk dengan dibuktikan adanya fenomena trans-ovarial nyamuk aedes aegypti yang sudah membawa Virus Dengue sejak menetas dari telur. Hal ini merubah cara berpikir kita yang sebelumnya diketahui bahwa nyamuk aedes aegypti hanya mengandung virus dengue setelah menggigit penderita DBD.

Penyemprotan atau fogging ini juga hanya membunuh nyamuk dewasa sementara telur nyamuk, dan larva/jentik nyamuk yang ada di genangan air tidak terbunuh. 

Bagaimanapun, pengasapan atau fogging ini memang harus diminimalisir dan hanya di indikasikan khusus untuk kasus-kasus DBD yang terbukti telah terjadi penularan dengan tujuan untuk memutuskan mata rantai penularan tersebut seketika.

Tindakan pemberantasan Sarang Nyamuk adalah yang paling ditekankan kepada masyarakat untuk mencegah DBD dan memutus mata rantai penularan DBD.




 



Syarat fogging tersebut adalah :

Dalam rentang waktu 3 minggu, radius 20 rumah
1. ada 1 kasus DBD (konfirm) plus 1 kasus tambahan (konfirmasi) baik kasus tersebut meninggal/ hidup
2. ada 1 kasus DBD (konfirm) plus 3 kasus panas tanpa sebab, dan ditemukan jentik nyamuk > 5% pada daerah PE
Keterangan:
* Kasus konfirmasi adalah adanya data laboratorium yang menggambarkan adanya penurunan trombosit <100 .000="" dan="" haematokrit="" kenaikan="">20% 

* Kasus- kasus yang disebut berhubungan secara epidemiologis (penularan) adalah:
Kasus tersebut terjadi dalam rentang waktu 3 minggu dari kasus sebelumnya/ sesudahnya
Kasus tersebut terjadi di area radius 20 rumah dari kasus sebelumnya/sesudahnya
Kasus tersebut mempunyai hubungan kontak erat meskipun jarak rumah radius > 20 rumah, cth: sekolah bersama
* Fogging dilakukan sekitar 200 rumah, 2 kali dengan interval 1 minggu
* Jika ada kasus selain syarat diatas maka hanya dilakukan PSN, abatisasi, amati 3 minggu semenjak kasus terakhir
* Jika tidak ada tambahan kasus dan tidak ada jentik, maka hanya penyuluhan

Catatan penting: Untuk kasus DBD konfirmasi yang meninggal, maka dapat dipastikan secara epidemiologis pasti ada kasus tambahan DBD juga, atau 3 kasus demam tanpa sebab, maka Penyelidikan Epidemiologi di kasus DBD meninggal harus ekstra ketat

Rakerkesnas 2017

Thursday, February 23, 2017

2017 Buku Haji tidak ada

Slawi - BKJH tidak ada tahun ini, melainkan memakai print out dari entry sata siskohatkes di internet. Puskesmas dipersiapkan bisa mengisi data kesehatan secara online.



Hal tersebut disampaikan dr.Meliansyori, Kabid P2P Dinas Kesehatan Kab. Tegal dalam rapat koordinasi petugas programmer dan dokter pemeriksa kesehatan Jemaah Haji Puskesmas se Kabupaten Tegal di Gedung PMI Kabupaten Tegal (20/2).

Meli menambahkan, Pelayanan Kesehatan haji segera dipersiapkan dengan baik termasuk administrasinya. Catatan mengenai status kesehatan CJH (Calon Jemaah Haji) biasanya kita catat di BKJH (Buku Kesehatan Jemaah Haji), namun tahun 2017 ini BKJH diganti dengan print out hasil dari entry data di website siskohatkes.

"Puskesmas harus bisa isi Siskohat" terang Meli. Website siskohatkes (sistem komputerisasi Haji terpadu kesehatan) itu berisi form yang harus diisi mulai dari biodata sampai dengan hasil pemeriksaan kesehatan Tahap I di Puskesmas. Setelah data tersimpan, bisa di print dan hard copy tersebut bisa menjadi dokumen resmi catatan kesehatan CJH.

Pertemuan yang diikuti oleh 29 puskesmas dan 1 Rumah Sakit tersebut diisi pula materi mengenai Kebijakan program Haji, Pemeriksaan Tahap I dan Sharing Pengalaman dari petugas kesehatan haji tahun lalu, dr.sarmanah, mengenai kondisi pelaksanaan ibadah haji di tanah suci.  

Sunday, February 19, 2017

Jenazah HIV/AIDS aman disentuh!

Slawi- Masyarakat sebenarnya tidak perlu khawatir akan tertular virus HIV saat memandikan jenazah ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) Penularan virus HIV hanya bisa melalui darah, sperma dan cairan vagina, sehingga orang yang menyentuh jenazah ODHA selama proses perawatan jenazah tidak perlu takut tertular HIV.


Demikian disampaikan Umi Azizah Wakil Bupati Tegal dalam sambutan acara Pertemuan Sosialisasi Tata Cara Pemulasaran Jenazah ODHA atau Penyakit Menular, Slawi (16/2). Diikuti 100 peserta dari Tarub, Dukuhwaru, Pangkah, Slawi acara itu menghadirkan Wakil Bupati Tegal, Asisten II, Kabag Kesra, Camat Pangkah, dan Dinas Kesehatan.

Umi menambahkan adanya stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap ODHA, berdampak pula ketika ODHA meninggal dunia, sehingga tidak mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya. "Bahkan masih banyak masyarakat yang tidak berani memandikan jenazah ODHA" imbuhnya.

Dari hasil penelitian, bahwa jenazah ODHA aman untuk dimandikan dan virusnya turut mati setelah 4 (empat) jam dari waktu meninggalnya.

Media hidup HIV dalam tubuh manusia hanya berada pada darah, cairan sperma, cairan vagina dan Air Susu Ibu (ASI), sehingga cara penularannya pun melalui berbagai perilaku yang memindahkan keempat cairan tersebut dari tubuh pengidap HIV kepada individu baru. Perilaku yang dapat menularkan HIV diantaranya penggunaan alat suntik tidak steril/secara bergantian (sering terjadi pada pengguna narkoba suntik), hubungan seksual serta proses kelahiran dan menyusui bayi pada ibu yang positif HIV. Dari berbagai perilaku beresiko penularan tersebut kita bisa mengetahui siapa saja yang memiliki kerawanan tinggi tertular HIV. "Namun pada prinsipnya kita semua memiliki resiko tertular HIV terutama para dokter, bidan atau petugas medis lainnya yang melayani banyak orang tanpa tahu status kesehatannya" papar Umi.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal HIV/AIDS sampai Desember 2016 berjumlah 553 terdiri dari 324 kasus HIV dan 229 kasus AIDS serta meninggal 91 Orang. Untuk tahun 2016 saja HIV/AIDS berjumlah 146. Penderitanya bukan hanya mereka yang secara  tindakannya salah,  namun mayoritas justru diderita oleh ibu rumah tangga dan anak-anak yang tertular oleh suami/ayah yang terinfeksi HIV.

Permenkes no 62 tahun 2016

download tentang Penyelenggaraan Kesehatan Haji  

Thursday, February 9, 2017

Permen kadaluarsa, Kadinkes Waspada & tindak cepat!

Berita Slawi - Tanggal kadaluarsa ditutupi cat sehingga tidak terlihat dari luar, beredar di jajanan sekolahan yang mungkin dikonsumsi oleh anak-anak SD.


Demikian dilaporkan oleh salah satu anggota Saka Bakti Husada kecamatan Warureja, Sasongko, yang menemukannya di SD N 1 Harjosari di Kec. Suradadi (9/2). Sampel tersebut sudah diamankan di Puskesmas Jatibogor.




Pada hari yang sama, sekitar pukul 09.30 wib telah terjadi kejadian gejala diduga keracunan makanan 5 anak SD N 2 Jatinegara yang mengalami pusing setelah memakan permen karet doble mint kaleng yang telah kedaluarsa sejak september 2016.

Anak tersebut membelinya dari kantin sekolah, kantin itu membeli dari tengkulak yang dibeli dari toko di Banjaran Adiwerna. Polsek Jatinegara telah mengamankan sekitar 21 permen karet isi penuh, 3 bungkus kosong, 1 bungkus isi separuh dari pedagang tengkulak. 

Kadinkes, dr.Hendadi segera menyerukan kewaspadaan kepada semua Puskesmas, dan tindak lanjut penderita serta tim SKPT (Sistem Keamanan Pangan Terpadu) segera bergerak, termasuk petugas sanitarian puskesmas utk berkoordinasi dg SD di wil kerja masing2 (pengawasan makanan).
       
 



"Hari ini Tim SKPT Puskesmas Jatibogor investigasi ke lokasi kejadian dan menemukan wafer tango tanggal EDnya dihapus, permen mint kemasan lain tanggal EDnya dilepas, ini beresiko menyebar ke beberapa wilayah, kita harus waspada dan bertindak cepat" tandasnya.

Monday, February 6, 2017

Bubuk Abate untuk kolam besar

Slawi - Kolam mandi yang besar bagus jika diberi abate karena sulit/ jarang dikuras, tapi untuk kolam kecil yang mudah/ sering dikuras, abate akan terbuang percuma, apalagi jika dindingnya disikat saat menguras.

 


 


Demikian dikatakan dr. Meliansyori , Kabid P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal saat menjelaskan pemakaian bubuk Abate (6/2). Meli menambahkan "Abate akan mudah menempel di dinding bak mandi dan bertahan disitu 2-3 bulan dalam bentuk yang kecil, larut dan tidak terlihat mata"

Bak mandi yang besar atau yang sulit air pasti akan jarang dikuras, kolam kecil yang sering / mudah dikuras sebaiknya dikuras saja minimal seminggu sekali sehingga jentik tidak sempat berubah menjadi nyamuk.

Pemberian abate sesuai dosis aman untuk air mandi bahkan aman jika air mandi sampai tertelan. Dosis abate adalah 1gram untuk 10 liter air. "Diberikan di kolam besar, selama 2-3 bulan, lalu bisa diulang pemberiannya, itu jika benar-benar kolam tersebut terpaksa sulit/ jarang dikuras" imbuhnya.

Meli menegaskan bahwa Pemberantasan Sarang Nyamuk memang diusahakan dengan menguras bak mandi jika bisa dan sumber air memadahi, sehingga tidak hanya bebas jentik saja namun air bersih untuk mandi juga selalu berganti. Sama halnya dengan memelihara ikan pemakan jentik untuk kolam besar, itu bagus namun kadang meninggalkan kotoran yang beresiko menganggu kesehatan kulit juga.

Thursday, February 2, 2017

Rumor DB, Ari: semua pasti akan ditindaklanjuti

Dukuhturi - Maraknya kasus DBD di Kabupaten Tegal bisa menyebabkan masyarakat resah, akhirnya akan semakin banyak rumor tentang Demam berdarah di mayarakat. Bisa saja masyarakat berlebihan melaporkan kasus demam berdarah padahal itu hanya demam biasa atau penyakit lain.

Hal tersebut dikatakan oleh Ari, Kasie P3M Dinkes Kab. Tegal dalam penyuluhan kader kesehatan se wilayah kerja puskesmas Dukuhturi (27/1).

Kepala desa, tokoh masyarakat, bidan desa seringkali menjadi tempat keluh kesah dan laporan rumor dari warga secara langsung. Bahkan adanya bebasnya alur informasi masyarakat bisa melaporkan apapun langsung ke SMS bupati. 

 




"Saya bingung menjelaskan ke masyarakat jika ternyata rumor tersebut bukan DBD (hanya demam biasa), soalnya warga langsung SMS ke Bupati" kata A.Sekhu, Kades Pengabean. 

Istrinya, Khadijah, selaku Tim Penggerak PKK desa Pengabean menambahkan "mereka sukanya langsung minta fogging (semprot)" padahal belum pasti itu demam berdarah. Kebiasaan seperti ini sudah terjadi berpuluh-puluh tahun.

"iya, kita tenaga kesehatan yang ada di desa juga dituntut bisa mengayomi warganya termasuk dalam tindaklanjut rumor DBD" imbuh Indah Rosalina, bidan desa Pengabean.

Kapusk Dukuhturi dr. Titik, menjelaskan "Untuk bisa disebut Demam Berdarah Dengue atau Demam Dengue semuanya harus didukung bukti pemeriksaan laboratorium, untuk fogging juga ada syaratnya, semua harus sesuai standart". Penyemprotan juga ada efek buruknya selain mencemari lingkungan dengan racun insektisidanya, itu juga hanya membunuh nyamuk dewasa sementara jentik nyamuk masih hidup dan beberapa hari lagi menjadi nyamuk dewasa yang siap menggigit manusia.

"Jangan khawatir, setiap rumor DBD akan ditindaklanjuti, itu kewajiban kita" ujar Ari. Semua Rumor penyakit menular yang ada di masyarakay akan ditindaklanjuti dengan Penyelidikan Epidemiologi, jika terbukti benar maka akan dilakukan penanggulangan penyakit menular tersebut sesuai standar, jika terbukti tidak benar/ bukan penyakit menular yang potensial KLB maka Dinkes sudah membuat sistem klarifikasi rumor kepada masyarakat/ pelapor.

"Warga tetap dihimbau melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk daripada meminta fogging" tandasnya.

SPGDT siap 24 jam nonstop!

Slawi - Dinkes akan memiliki sistem untuk sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT) yang siaga 24 jam non stop. Sistem call center yang bisa dihubungi oleh masyarakat langsung akan siap di awal tahun 2017 ini.





"Banyak kasus gawat darurat tidak tertolong dengan cepat karena tidak ada sistem yang baik" kata dr. titis, Sekretaris Dinas Kesehatan Kab.Tegal saat mengumumkan penerimaan petugas SPGDT. "Kadang orang sakit sudah dibawa ke Rumah Sakit A ternyata rumah sakit A penuh akhirnya dirujuk ke RS B, itu tidak efektif waktunya habis di jalan sedangkan pasiennya butuh pertolongan segera" tambahnya.

Sistem ini akan diintegrasikan dengan SIJARI EMAS ( sistem informasi jejaring rujukan expanding  maternal and new born survival) yaitu sistem yang sudah terbentuk terlebih dahulu untuk memantau ketat faktor resiko dan rujukan ibu hamil dan neonatal.

Sebanyak 9 orang pegawai baru hasil seleksi perekrutan telah siap menopang kebutuhan dalam sistem jaringan komputerisasi, tenaga perawat, bidan dan verifikator jaminan persalinan."Kita akan punya call center yang bisa dihubungi masyarakat 24 jam untuk kasus gawat darurat penyakit, rujukan dan bencana" imbuh dr. Hendadi, selaku Kadinkes.