Audio Bumper

Tuesday, February 20, 2018

Analisa Tahunan Kusta


Sebuah program harus di monitor dan evaluasi dari berbagai indikator. Demikian pula kusta, ada beberapa indikator yang bisa dianalisa secara periodik tahunan, diantaranya:

1. Jumlah penduduk
2. Jumlah Desa
3. Jumlah desa yang ada penderitanya
4. Jumlah penderita yang terdaftar (masih berobat) pada bulan desember PB (untuk menghitung prevalensi)
5. Jumlah penderita yang terdaftar (masih berobat) pada bulan desember MB (untuk menghitung prevalensi)
6. Jumlah TOTAL penderita yang terdaftar (masih berobat) pada bulan desember PB + MB (untuk menghitung prevalensi)
7. Prevalensi Rate
8. Jumlah penderita baru pada jan- Des kasus PB (untuk menghitung CDR) 
9. Jumlah penderita baru pada jan- Des kasus MB (untuk menghitung CDR) 
10. Jumlah TOTAL penderita baru pada jan- Des kasus PB + MB (untuk menghitung CDR)  
11. CDR (Case Detection Rate)
12. Proporsi MB (kasus baru MB dari seluruh kasus baru)
13.  Cacat tingkat 1 pada penderita baru
14. Cacat tingkat 2 pada penderita baru
15. Proporsi Cacat tk.2 dari total penderita baru
16. Jumlah kasus baru, anak PB
17. Jumlah kasus baru, anak MB
18. Jumlah Total kasus anak (baru)
19. Proporsi kasus anak dari total kasus baru
20. Jumlah penderita PB baru, diberi obat
21. Jumlah penderita MB baru, diberi obat
22. Jumlah TOTAL penderita PB+ MB, diberi obat
23. Cakupan MDT (proporsi penderita yg diberi obat dari total penderita baru)
24. Jumlah penderita PB yang RFT 
25. Jumlah penderita MB yang RFT
26. RFT PB (proporsi dari penderita baru)
27. RFT MB (proporsi dari penderita baru)
28 Jumlah penderita OOC (lost kontak)
29 Jumlah penderita Kambuh
30. Jumlah penderita masuk kembali
31. Jumlah penderita reaksi berat type I
32. Jumlah penderita reaksi berat type II (ENL)
33. Jumlah TOTAL penderita reaksi berat


Tuesday, February 6, 2018

Pelaporan Tri Wulan Kusta yg baik

 


Salah data, fatal

Kesalahan data akan mengakibatkan kesalahan pengambilan kebijakan karna data tersebut adalah sumber bagi pengambil keputusan. Sistem Pengamatan Penyakit perlu dilakukan secara cermat dan terus menerus . 


Di era percepatan komunikasi dan informasi seperti sekarang ini penggunaan media komunikasi seperti phone cell Android dengan aplikasi WhatsApp (WA) sangat aplikatif dan membantu dalam pelaporan pengamatan penyakit.

Termasuk Kusta, penyakit yang membutuhkan pemantauan secara kontinyu ini perlu diketahui kapan dia ditemukan, keteraturan minum obat, tanda-tanda reaksi, dan kapan dia dinyatakan Release From Treatment (selesai pengobatan). Pemantauan tersebut tertuang dalam Laporan Monitoring pasien yang dilaporkan per Tri Wulan (TW).

Berikut ini beberapa tips untuk memperlancar laporan TW Kusta dengan cepat dan tepat:

1. Pelajari Tata cara mengisi Laporan TW Kusta
     Ketahui dahulu kolom apa yang harus diisi dan bagaimana cara mengisi, termasuk kode atau               lambang tertentu seperti kode desa, kode Meninggal, kode ganti type, kode pindah, Lambang               reaksi, lambang reaksi berat berulang ENL. Untuk petunjuk bagaimana cara mengisi laporan TW       ada disini: http://surveilans.blogspot.co.id/2017/08/petunjuk-pengisian-buku-register.html

2.  Lengkapi data segera setelah pelayanan
     Semua yang terlapor dalam laporan TW Kusta adalah semua pasien kusta baik yang ditemukan           baik baru maupun lama. Catat dengan lengkap tiada yang terlewati seperti kode desa, register             pasien (urutan ditemukan di tahun tersebut), sampai dengan tingkat cacat saat awal ditemukan.           Cek kembali semua laporan yang telah ditulis, dan lebih baik menulis laporan buku monitoring           tersebut segera setelah menemukan pasien, melakukan pemeriksaan dan memberikan pengobatan.       Ketertiban mengisi laporan ini segera setelah memberikan pelayanan kusta akan sangat                        menunjang kelengkapan laporan.

3. Gunakan teknologi dengan baik
     Untuk menunjang ketepatan laporan, maka dibutuhkan kecepatan dalam laporan. Dalam hal ini           membutuhkan keterampilan dalam melaporkan dengan media seperti WA dari HP Android.                 Laporan yang butuh dikirim cepat bisa melalui foto. Foto harus dilakukan dengan pencahayaan           yang terang, dan posisi kamera yang stabil sehingga bisa terbaca dengan baik. Atau jika berupa           file komputer anda bisa mengirimkannya melalui email, atau file terlampir di WA

4. Cek kelengkapan yang terkirim
     Cek sekali lagi dalam pengiriman melalui Handphone apakah benar semua lembar yang perlu             dilaporkan sudah terkirim, jangan sampai ada lembar yang tertinggal karna ini bisa berakibat data       tidak lengkap bahkan laporan pasien RFT yang tidak terkirim akan mengakibatkan angka                     prevalensi tetap tinggi padahal si pasien sudah RFT. Laporan yag harus dikirimkan adalah semua         pasien kusta yang ditemukan di TW tersebut, semua pasien yang sedang berobat di TW tersebut,         serta semua pasien lama yang berakhir pengobatan di TW tersebut. 
    
5. Susulkan hardcopi (berkas fisik) 
     Laporan resmi berkas fisik dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan tetap dilaporkan segera sebagai           bukti otentik laporan.

Tuesday, January 30, 2018

target penemuan kusta 2018

Cara menghitung target penemuan kusta untuk tingkat Kabupaten dan Puskesmas adalah sebagai berikut:

1. Target penemuan kasus kusta baru seluruh kabupaten kota di Jawa Tengah adalah sebagai berikut:
Dengan perhitungan Target CDR (Case Detection Rate) adalah  1,56/ 10.000 jumlah penduduk. maka tahun 2018 Target penemuan kusta kab tegal adalah 247.

2. Menghitung berapa target penemuan kusta baru untuk tiap puskesmas adalah sebagai berikut:
     Penemuan Puskesmas tersebut di tahun lalu    x  target kab tegal th ini
     Penemuan Kabupaten Tegal thn lalu





 

Sunday, January 28, 2018

Kasus Kusta Meningkat



29 Januari 2018 | Suara Pantura
  • 2017, Ada 208 Penderita

SLAWI- Penemuan kasus penyakit kusta di Kabupaten Tegal meningkat. Jika pada 2016 ada temuan kasus baru kusta hingga 198 penderita, pada 2017 ditemukan kasus baru sebanyak 208 penderita. Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Tegal, Ari Dwi Cahyani mengatakan, pihaknya berusaha meminimalkan kasus kusta pada 2019 sesuai target dari Dinkes Jateng.
”Angka prevalensi kusta kurang dari 1/10.000 penduduk, tetapi selama ini di Kabupaten Tegal angka prevalensinya masih lebih dari 1/10.000. Artinya di antara 10.000 penduduk, terdapat satu penderita kusta,” sebut Ari saat ditemui pada acara peringatan Hari Kusta se-dunia di Alunalun Hanggawana, Slawi, Minggu (28/1).
Untuk mencapai target eliminasi kusta pada 2019, Dinkes Kabupaten Tegal berupaya menemukan sebanyak mungkin penderita kusta. Hal ini untuk mencegah penularan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae tersebut. ”Sumber penularan kusta saat ini adalah penderita yang belum diobati. Kami terus melakukan intensifikasi penemuan kusta,” jelas Ari.
Intensifikasi penemuan kusta, sambung dia, di antaranya dengan melakukan pemeriksaan fisik pada keluarga dan lingkungan penderita kusta yang ditemukan sejak 2012 hingga saat ini. Kemudian dengan melibatkan anggota keluarga, untuk mengenali bercak yang ada di tubuhnya atau intensifikasi case finding, serta sosialiasi kepada masyarakat.
Ari menyebutkan, untuk kasus kusta yang disertai komplikasi, pemerintah telah bekerja sama dengan RS Donorojo di Kelet, Jepara yang merupakan satu-satunya RS kusta di Jateng. Di RS itu, penderita kusta yang disertai komplikasi ditangani dengan bedah rekonstruksi, sehingga mereka bisa aktif kembali dan dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Adapun untuk angka kecacatan penderita kusta di Kabupaten Tegal sampai saat ini masih tinggi.
Dari penderita kusta baru yang ditemukan, 10 sampai 11 persen di antaranya telah mengalami cacat akibat penyakit tersebut. ”Angka cacat yang standar lima persen, namun di Kabupaten Tegal lebih dari itu, yakni mencapai 10 sampai 11 persen,” jelasnya.
Mudah Dikenali
Menurutnya, setiap tahun dari penemuan kasus baru kusta, sedikitnya ditemukan 20 penderita yang mengalami cacat tingkat II (cacat yang kelihatan). Dijelaskan, gejala awal penyakit kusta mudah dikenali.
Di antaranya, ada bercak berwarna putih atau merah pada tubuh tanpa mati rasa. Namun karena penderita tidak merasa terganggu dengan bercak tersebut, maka tidak segera memeriksakan diri. ”Setelah bercak melebar biasanya baru periksa,” ungkapnya. Adapun untuk pengobatan kusta, penderita bisa mendapatkan obat di puskesmas secara gratis.
Sementara itu, peringatan Hari Kusta se-dunia yang jatuh pada 29 Januari, diperingati dengan menggelar penampilan pantomim dan monolog. Pantomim dan monolog dimainkan oleh staf Dinkes Bagus Johan Maulana, mengekspresikan diri sebagai penderita kusta yang sudah terlanjur menderita cacat. Cacat dalam kusta bisa berupa tidak bisa menutup kelopak mata dengan rapat, telapak tangan atau kaki yang mati rasa, dan jari yang kiting atau mengalami kelainan bentuk.
Terkait tingginya angka kecacatan penderita kusta di Kabupaten Tegal, Kepala Dinkes Kabupaten Tegal dokter Hendadi Setiaji mengimbau masyarakat agar waspada. Sebab, banyak penderita yang menganggap bercak kulit yang mati rasa itu bukan masalah. Bahkan seringkali dianggap panu, padahal itu tanda utama kusta. Mereka baru mengunjungi petugas kesehatan setelah terjadi cacat kusta. Kasus yang tersembunyi inilah yang diam-diam menularkan pada anggota keluarga terdekat seperti anak-anak, lantaran daya tahan tubuhnya rentan.
Penyakit ini kadang menimbulkan stigma buruk di masyarakat. Seringkali, penderita kusta dikucilkan karena dianggap penyakit kutukan yang tidak bisa sembuh dan sangat menular. Padahal kusta bisa sembuh total dan tidak menular, jika berobat teratur. Menularnya kusta, menurutnya, butuh waktu kontak erat bertahun-tahun.
Hanya saja cacat yang sudah terlanjur permanen, kadang membuat penderita merasa malu dan rendah diri dalam berinteraksi sosial yang akhirnya mereka merasa tidak produktif. Dinas Sosial juga terus berupaya memberdayakan orang yang pernah menderita kusta dan mengalami cacat dengan berbagai pelatihan kerja. Mereka tergabung dalam komunitas Difable Slawi Mandiri. (H45-73,69

SM/Cessnasari - TAMPILKAN PANTOMIM: Penampilan pantomim dan monolog menyemarakkan peringatan Hari Kusta se-Dunia di Alun-alun Hanggawana, Slawi, Minggu (28/1). (73)

Thursday, January 25, 2018

Hari Kusta Sedunia: Dinkes gelar aksi Pantomim


Dunia Promosi Kesehatan

Minggu pagi nanti ada yang unik di Alun -Alun Hanggawana Slawi. Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal kali ini akan menggelar aksi seni pertunjukan (performing art) berupa Pantomim dan monolog.


"Pantomim akan mulai beraksi sekitar jam 7 pagi berjalan mengitari Alun-alun, lalu sesekali melakukan aksi monolog di titik-titik tertentu, dan berakhir di panggung permanen Alun-Alun Hanggawana, Slawi" papar Teguh Triyono, koordinar aksi dari Tim Kreatif Dinkes ditemui di kantornya Kamis (25/1).

"Kali ini kita akan menggabungkan seni Pantomim yang bisu dengan seni Monolog yaitu seni peran yang hanya butuh satu orang untuk melakukan adegannya" ujarnya.
Tim kecil pertunjukan yang dibentuk dr. Hendadi Setiaji, M.Kes selaku Kadinkes itu akan menggelar aksi selama 1 jam dalam rangka Peringatan Hari Kusta sedunia. Hari Kusta sedunia diperingati pada hari Minggu terakhir setiap bulan Januari. "Tahun ini tema kita adalah Perkuat komitmen politik dalam penanggulangan kusta dan penghapusan stigma" ujar Hendadi.

Hendadi menambahkan "Pantomim itu akan mengekspresikan diri sebagai penderita kusta yang sudah terlanjur menderita cacat". Cacat dalam Kusta bisa berupa tidak bisa menutup kelopak mata dengan rapat, telapak tangan atau kaki yang mati rasa dan jari yang kiting atau kelainan bentuk. 

Data Dinas Kesehatan Kab. Tegal menyebutkan tingkat cacat kusta di Kabupaten Tegal masih tinggi yaitu 11 persen dengan target seharusnya 5 persen. Sementara kasus kusta pada anak sebanyak 7 persen dengan target kurang dari 5 persen.

"Itu artinya kita masih terlambat menemukan kasus kusta" terang Hendadi. Untuk itu masyarakat dihimbau untuk ikut waspada terhadap gejala kusta. Banyak penderita yang menganggap bercak kulit yang mati rasa itu bukan masalah, dianggapnya panu, padahal itu tanda utama kusta. Mereka baru mengunjungi petugas kesehatan setelah terjadi cacat kusta. Kasus yang "tersembunyi" inilah yang diam-diam menularkan pada anggota keluarga terdekat seperti anak-anak yang rentan daya tahan tubuhnya.

Jika terlambat menemukan kusta lebih dari 6 bulan maka resiko kejadian cacat bisa permanen. Untuk penanganan kasus komplikasi kusta dan rekonstruksi cacat Pihak Dinas Kesehatan selama ini kerjasama dengan Rumah Sakit Kusta Donorojo, Kelet, Jepara.

Jumlah Kasus kusta baru selama tahun 2017 di Kabupaten Tegal berjumlah 208 kasus atau 1,45 /10.000 penduduk. Kabupaten Tegal termasuk 5 besar Kabupaten dengan kasus kusta terbanyak di Provinsi Jawa Tengah. Indonesia sendiri peringkat 3 dunia setelah India dan Brazil untuk total kasus baru penyakit ini.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Micobacterium Leprae ini kadang menimbulkan stigma yang buruk di masyarakat. Seringkali, penderita kusta dikucilkan (deskriminasi) karna dianggap penyakit kutukan yang tidak bisa sembuh dan sangat menular. Padahal kusta bisa sembuh total dan tidak menularkan lagi jika berobat teratur. Untuk menularnya butuh waktu kontak erat bertahun-tahun. "Petugas Puskesmas biasa berjabat tangan dan kontak selama mengobati, tak masalah, apalagi kekebalan tubuh kita baik, tidak perlu takut dengan pasien kusta" tambah Hendadi.

Hanya saja cacat yang sudah terlanjur permanen kadang membuat penderita merasa malu dan rendah diri dalam hubungan sosial yang akhirnya tidak produktif. Pemerintah Daerah melalui Dinas Sosial juga terus berupaya memberdayakan OYPMK (Orang Yang Pernah Menderita Kusta) yang menderita cacat dengan berbagai pelatihan kerja. Mereka tergabung dalam Difable Slawi Mandiri.

“Intinya Pemerintah Daerah terus berkomitmen agar kusta tidak menjadi penyakit yang bermasalah di Kabupaten Tegal dengan menurunkan kasus kusta sampai degan kurang dari 1 per 10.000 penduduk namun sangat butuh peran aktif masyarakat untuk menemukan kasus lebih dini agar mencegah kecacatan dan mencegah kasus pada anak, berobat teratur, dan jangan kucilkan penderita melainkan justru memberinya semangat untuk hidup" tandas Hendadi.




Tuesday, January 16, 2018

11 Kasus kusta baru ditemukan saat ICF

Slawi - Berdayakan masyarakat untuk menemukan kasus kusta yang tersembunyi. Itu adalah misi utama dari kegiatan ICF yang diadakan di 8 desa di wilayah Kabupaten Tegal antara tanggal 10-20 April 2017. Selain menemukan kasus dan memutus mata rantai penularan kasus kusta agar terjadi penurunan kasus tersebut menuju eliminasi kusta.

Kegiatan ini diadakan 4 hari dengan agenda hari pertama sosialisasi kepada kader, hari ke-2 adalah pembagian format pencarian bercak kepada kader untuk dibagikan kepada Kepala Keluarga (KK), hari ke-3 adalah pengumpulan kembali format dair KK kepada kader, hari ke4 adalah pemeriksaan anggota keluarga yang memeiliki bercak oleh tenaga kesehatan (programer kusta puskesmas dan dokter puskesmas).

8 Desa yang menjadi project ini adalah Desa Ujungrusi Puskesmas Adiwerna, Desa Karangdawa Pusk Margasari, Desa Grobog wetan Puskesmas Pangkah, Desa Kaladawa Pusk Kaladawa, Desa Sidakaton Puskesmas Kupu, Desa Harjosari Kidul Pusk Pagiyanten, Desa Karanganyar Pusk Pagerbarang, Desa Dukuhtengah Pusk Kesambi.

Dari kegiatan ini ditemukan 11 kasus baru dengan 1 kasus cacat tingkat 2. 11 Kasus baru itu ditemukan dari pemeriksaan terhadap 1.912 jumlah keluarga yang ada bercak, dari 18.408 total jumlah Kepala Keluarga yang dijadikan projek.

Dengan melibatkan kepala keluarga untuk memeriksa anggota keluarganya maka masyarakat lebih waspada jika ada bercak mati rasa yang ada di tubuh sehingga bisa mencegah kecacatan yang akan diderita jika kasus tersebut segera ditangani.





 


















Friday, December 15, 2017

POKJANAL DBD WASPADA MENGHADAPI MUSIM HUJAN

Slawi - Musim hujan yang segera datang di akhir tahun ini biasanya akan disertai juga beberapa penyakit yang berhubungan dengan musim hujan itu seperti batuk, pilek dan juga Demam Berdarah Dengue (DBD). 


















Untuk itu Pokjanal (Kelompok Kerja Operasional) Penanggulangan DBD kembali di revitalisasi melalui Surat Keputusan Bupati Tegal Nomor 605 tahun 2017 yang terdiri dari berbagai lintas sektor terkait seperti Kantor Bagian Kesra Setda, Bappeda dan Litbang, dan Organisasi Perangkat Daerah seperti Dinas Pariwisata hingga Dinas Lingkungan Hidup, serta Organisasi masyarakat seperti Muslimat NU dan Aisyiyah.



 

 


Assisten Administrasi Pembangunan Setda Kabupaten Tegal, Moh. Nur Ma'mun, SH, M.Hum yang membuka acara Rapat koordinasi POKJANAL DBD (14/12) di Ruang Candra Kirana Setda Kab. Tegal mengatakan bahwa "peran POKJANAL DBD sangat penting di bidangnya masing-masing". Beliau memaparkan bahwa anggaran daerah tidak bisa diandalkan untuk memberantas penyakit DBD karena ini harus dari upaya masyarakat untuk mencegahnya dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), maka tentunya Dinas Kesehatan pun tidak akan bisa mencegah DBD ini sendirian.

Nur Ma'mun menambahkan bahwa Pokjanal DBD harus ditindaklanjuti sampai ke tingkat desa dan harus bisa memberdayakan dana desa untu kkepentingan kesehatan. Dana desa selama ini masih berfokus pada pembangunan fisik, padahal sudah jelas di Permendes no.19 tahun 2017 bahwa dana desa bisa digunakan untuk peningkatan kualitas dan akses terhadap Pelayanan Sosial Dasar salah satunya adalah untuk pengelolaan kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat seperti kampanye dan promosi hidup sehat untuk mencegah penyakit menular, itu bisa digunakan untuk melaksanakan PSN

 


Hadir dalam kesempatan itu Ari Dwi Cahyani, SKM, M.Kes sebagai Narasumber Kasie P2PM Bidang P2P Dinkes Kabupaten Tegal yang memaparkan tentang fase perjalanan penyakit Demam Berdarah. Ari menjelaskan tentang bahaya dan kewaspadaan DB pada saat turunnya demam itulah bisa terjadi fase syok. "Dana APBD II tahun 2018 untuk DBD turun hingga 50%, fogging saja hanya untuk 44 titik fokus saja". Artinya masyarakat jangan tidak tergantung fogging untuk mengatasi masalah DBD, apalagi fogging dapat berimbas mencemari lingkungan karena itu adalah obat insektisida.

 

 

Ari menambahkan bahwa gerakan PSN yang detik ini paling populer dan terbukti serta direkomendasikan secara Nasional adalah "Gerakan 1 rumah 1 jumantik". Gerakan ini memberdayakan anggota keluarga untuk menjadi juru pemantau jentik (jumantik) untuk rumah mereka sendiri-sendiri secara aktif melakukan PSN setiap minggunya. Jadi, tidak tergantung dari petugas kesehatan untuk melakukan PSN. Kegiatan ini sudah dilaksanakan di beberapa desa di Kabupaten Tegal, sebagai contoh di Kecamatan Adiwerna ada 5 desa yang menggunakan dana desa untuk gerakan 1 rumah 1 jumantik, desa yang lain bisa mencontohnya.

Lintas sektor lain juga menyatakan siap untuk bersama-sama melakukan kewaspadaan penyakit DBD di awal musim hujan ini. Ketua Stikes Bhamada, Tri Agustina H, SST, M.Kes menyatakan Stikes dan mahasiswa siap membantu jika dibutuhkan karena tugas ini terkait dengan program pengabdian masyarakat perguruan tinggi. Hadir pula dr. Titien Widyaningsih kepala UTDC Kab. Tegal yang siap mengkoordinasikan kebutuhan darah terutama trombosit jika dibutuhkan oleh penderita DBD. 

 

Satu per satu anggota pokjanal lintas sektoral tersebut menjelaskan kesiapannya bekerja sama dalam menanggulangi penyakit DBD. "Harapannya semoga menghadapi musim hujan ini Kabupaten Tegal tidak ada kasus DBD yang meninggal" imbuh Ari.